Cerpen : Cita-Cita dan Cinta


Cita-Cita dan Cinta

Oleh: Warda Firdausi Karimah

 

“Ingin rasanya kugapai, tapi layakkah aku?

 Bahkan untuk memimpikannya saja aku merasa tak layak.”

”Nduk, jika bisa kamu cari pasangan hidup  yang satu ideologi dalam beragama dengan kamu ya… karna nantinya akan terjadi suatu dilema jika kamu mencari pasangan hidup yang tidak satu ideolagi dalam beragama denganmu , kalau bisa  cari yang dapat mengembangkan atau meningkatkan kamu untuk menggapai ideologi itu”. Begitulah pesan ayah  Zahro.

Zahro adalah gadis muslimah yang berperawakan sedang dan selalu riang di mata orang-orang sekitarnya.  Ia memiliki segudang cita-cita yang tak terbendung dalam benaknya. Sebagian dari cita-citanya telah ia gapai dan adapula yang masih dalam proses untuk menggapainya. Dalam kesehariannya Zahro selalu sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan juga urusan-urusan di berbagai organisasi yang ia ikuti. Namun beberapa hari ini ia tampak tidak begitu fokus, karena sering terngiang pesan dari ayahnya, yaitu tentang mencari pasangan hidup.

Hubungan Zahroh dengan Ayahnya tidak begitu dekat memang, karena Zahroh tidak tinggal dengan ayahnya mulai kecil karena orangtuanya bercerai. Jadi mulai kecil ia lebih dekat dengan ibunya karena ia tinggal dengan Ibunya. Namun ayahnya terkadang datang kerumah ibunya hanya untuk sekedar menemui anak-anaknya dan bersilaturrahmi. Walaupun hubungan antara Zahro dan ayahnya tidak begitu dekat, Namun setidaknya Zahroh dapat menuruti dan mendengarkan nasihat-nasihat dari ayahnya. Juga termasuk harapan ayahnya tentang urusan pasangan hidup Zahroh kelak. Dan harapan ayahnya jugalah yang menjadi cita-cita Zahroh untuk mencari pasangan hidup yang satu idiologi dalam beragama dengannya.

Agak canggung memang bagi gadis sebelia itu untuk memikirkan seputar pasangan hidup, namun didunia yang sekarang serba maju ini untuk masalah pasangan, seorang anak yang masih dibangku SD (sekolah dasar) saja sudah tidak merasa segan untuk membicarakannya. Apalagi Zahro yang sudah menduduki bangku perkuliahan, yang notabennya memiliki lingkungan atau teman-teman yang sudah memiliki “pacar” jadi tidak begitu aneh jika sang ayah berpesan seperti itu.

Tapi untuk memiliki seorang pacar bagi gadis seperti Zahro, akan tabuh jadinya. Karena ia meyakini di dalam Agamanya tidak ada ajaran maupun anjuran untuk mencari pasangan hidup melalui pacaran. Ya, memang Zahro bukanlah muslimah yang sempurna, ia masih belajar dalam beragama, mungkin bisa dibilang dia masih mencari jati dirinya dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam beragama.

Namun untuk yang satu itu ia yakin, bahwa pacaran tidak di ajarkan dan dianjurkan dalam agamanya. Ia selalu mencoba untuk menjalankan kewajiban-kewajiban dalam beragama dengan semangat. Bahkan ia tak segan-segannya berkumpul dengan orang-orang yang ia tidak kenal, demi mendapatkan relasi yang dapat mengajaknnya lebih dalam utnuk mengenal dan mempelajari agamanya.

Bahkan Ia sekarang sedang sibuk-sibuknya untuk mengukir prestasi agar dapat menggapai impiannya yaitu kuliah keluar negeri. Dan ia juga sibuk untuk memperbaiki dirinya dalam memahami lebih dekat Agamanya.

Ketika sedang sibuk-sibuknya menyiapkan setumpuk cita-citanya itu, ia bertemu sesosok pria yang ia gambarkan sebagai pria idamannya… seorang pria yang soleh, pintar yang mempunyai tanggung jawab yang besar akan kewajibannya dan juga bijak serta halus tutur katanya. Dimana disetiap kesempatan mukanya terbasahi oleh percikan-percikan air wudhu dan juga ucapannya tidak lepas dari semangat-semangat berdakwah. Tidak begitu menggebu-gebu memang, tapi cukup terlihat dengan tindakannya yang aktif dalam mengerjakan kewajiban dalam beragama dan menjalankan sunnah-sunnah Rosul SAW.   Itulah sosok yang cukup menarik perhatian Zahro, karena ia berfikir bahwa pria itu adalah pria yang mampu membimbingnya dalam mempelajari, memperbaiki dan memenuhi idiologinya dalam beragama.

Zahroh, sebagai gadis muslimah tidak akan terang-terangan memperlihatkan bahwa ia cukup tertarik kepada  pria tersebut, karena ia mempunyai anggapan bahwa diamnya akan membawa lebih banyak manfaat bagi dirinya dan pria tersebut agar lebih tenang dalam menempuh cita-citanya dan menjalankan agamanya. Namun,  Zahro cukup ragu tentang kepantasannya mendambakan sesosok pria tersebut, ketika mengingat ucapan  dari pamannya “Zahro, Allah itu maha adil, karena memasang-masangkan manusia dengan sekufunya.”

Sekufu dalam arti bahasa adalah  sepadan sama atau menyerupai. Yang dimaksud dalam sekufu dalam fiqih Munakahat adalah adanya persamaan kedua manusia yang akan menikah dalam hal agamanya,dalam hal  keturunan dan segi keluarga,  merdeka(bukan sebagai hamba sahaya), dalam hal profesi dan yang terakhir dapat memenuhi permintaan dari pihak wanita. Karena kesamaan adalah syarat penting untuk menyempurnakan sebuah akad nikah. Walaupun Sekufu  itu bukan termasuk syarat syah nikah, namun satu hal yang membuat Zahroh resah yaitu tentang kekufuan dalam beragama.

“Ya, sekufu…. apakah aku sekufu dengan dia?. Dia pria yang baik dalam beragama maupun kehidupan sehari-harinya.. sedangkan aku? Aku adalah gadis biasa yang mana ilmu dasar agamaku bisa dibilang masih sangat rapuh… Ibaratkan manusia aku masih ditingkatan seorang bayi yang masih meraba-raba dalam mencari jalan, dan dapat tersesat kapan saja karena banyak kurangnya aku dalam ilmu agama dan dalam menjalankannya. Ingin rasanya kugapai, tapi layakkah aku?Bahkan untuk memimpikannya saja aku merasa tak layak.” Ucap Zahroh.

Maka Zahroh mencoba sebisa mungkin untuk merendam perasaannya karena dia yakin tidak harus pria tersebut yang dapatdijadikan sebagai pendamping hidupnya. Dan sampai kapanpun biarlah hatinya dan Allahlah yang tahu tentang perasaannya. Namun jika memang pria tersebut adalah jodoh yang diberikan oleh Allah dia juga sangat bersyukur. Dan Zahropun sangat yakin bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Dan takdir Allah adalah yang terbaik. Dan memang terkadang keinginan kita bukanlah yang terbaik untuk kita, Namun pasti takdir Allah lah yang terbaik bagi kehidupan dunia akhirat kita.

 

About these ads

4 pemikiran pada “Cerpen : Cita-Cita dan Cinta

  1. Zahro..Zahro.. Kau mengingatkanku pada salah seorang sahabat, kekukuhannya untuk menjaga hati, dan pikirannya dengan tidak ber”pacaran” merupakan tamparan keras bagi remaja-remaja muslim yang dengan sadar dan mengerti akan kemudhorotannya -termasuk saya T.T- jika mereka dengan fasih dan mungkin hafal dengan lantunan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an disertai dg Hadis-Hadis Shohehnya, dan merasa cukup dengan hal itu -berpuas diri- merupakan suatu kesombongan dan kebodohan yang besar, karena sadar maupun tidak sadar apa yang dilakukan itu kebanyakan hanya sebagai rutinitas belaka tanpa mencari tahu esensinya, dan alhasil banyak dari mereka yang bangga dg kegalauannya.

    Zahro, gadis muslimah yang berperawakan sedang dan selalu riang di mata orang-orang sekitarnya, janganlah kau berrisau hati seperti mereka, tetaplah kejar impianmu, tidak ada yang salah ketika mencintai seseorang itu, tetapi salah jika nafsu yang menggebu menguasai hati ini, biarlah cinta itu menjemputmu. -semuanyakan menjadi indah pada waktunya-
    Terusakan semangat perjuanganmu!!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s