“PERJUANGAN SANG ODHA”


“PERJUANGAN SANG ODHA”

oleh: Krisdiana Dyah Erawati

PEMERINTAH KOTA MALANG
DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 12 MALANG
Jalan Pahlawan Balearjosari Tlp. (0341) 400 884 MALANG
Website : http://www.smkn12malang.sch.id, e-mail : surat@smkn12malang.sch.id
Malang 2011

1. PENGENALAN HIV/AIDS
Sampai kini, jika kita mendengar kata HIV/AIDS, pasti dalam benak kita terlintas pikiran jika HIV/AIDS merupakan penyakit/virus yang seperti momok yang menakutkan. Padahal jika dipahami secara logis, HIV/AIDS bisa dengan mudah dihindari.
Permasalahan HIV/AIDS telah sejak lama menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun sesungguhnya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan kesehatan ini yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat.
HIV adalah virus penyebab AIDS. AIDS→Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah, cairan kelamin (air mani atau cairan vagina yang telah terinfeksi) dan air susu ibu yang telah terinfeksi. Sedangkan AIDS adalah sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun.HIV dapat menular ke orang lain melalui :
• Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
• Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
• Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
• Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
Penularan
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom
2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4. Bayi yang ibunya positif HIV
HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.

2. Mengenal Lebih Dekat dengan ODHA.

ODHA adalah sebutan bagi orang-orang yang hidup dengan virus HIV. Menjadi penderita HIV/AIDS tentu bukanlah mereka (ODHA) yang menginginkannya. Beberapa penderita HIV/AIDS merupakan korban dari ketidaktahuan dari situasi yang mereka hadapi sendiri. Dan fatalnya mereka justru tidak mengetahui jika mereka telah terjangkit virus HIV, sebab kurangnya pengetahuan mereka tentang penyakit yang satu ini. Virus HIV ini juga bisa diturunkan oleh orang tua kepada anaknya, yang semakin menambah banyaknya penderita ODHA. Tetapi virus HIV tidak semudah seperti penularan virus influenza pada orang lain.
Sebut saja Dewi (bukan nama sebenarnya, Red), wanita berusia 33 tahun. Setelah sang suami meninggal dunia akhir Agustus 2008 lalu, ibu muda ini harus berjuang hidup bersama dua anaknya yang masih balita melawan virus ganas mematikan yang belum ada obatnya: HIV/AIDS. “Suami menularkan HIV untuk saya dan dua anak. Tuhan masih sayang sama saya. Sebab, anak saya yang satu lagi sehat bugar,” ujar Dewi dalam perbincangan dengan SP dan Majalah Suara Bekasi di sebuah rumah di Kranji, Bekasi, baru-baru ini. Wajah Dewi tiba-tiba memucat saat berkisah soal Rommy (bukan nama sebenarnya, Red), sang suami yang meninggal karena AIDS di RSUD Bekasi. Tulang punggung keluarga itu harus meninggalkan Dewi dan tiga anak yang masih kecil.
Saat Rommy (35) pergi, Dewi yang notabene hanya ibu rumah tangga harus mengasuh Un (4) putra pertamanya, juga IK dan ID, dua putri kembarnya yang baru berusia 2 tahun. Selama ini mereka hidup dari uang transportasi Rommy yang bekerja sebagai pemusik.
Kepedihan yang dia rasakan bukan hanya kematian suaminya dan beratnya mengasuh tiga anak, tetapi petaka yang harus dia tanggung seumur hidup bersama dua anaknya yang masih balita. Vonis sebagai penderita HIV/AIDS buat dia dan dua anaknya bagaikan vonis mati.
Saat menikah pada 2003, Dewi belum mengetahui suaminya mengidap HIV. Dia hanya tahu, Rommy adalah pemakai narkoba lewat jarum suntik. Diakui, sang suami sudah terjerat “pergaulan hitam” di sebuah perumahan di Kranji. Narkoba menjadi kawan sehari-hari bagi Rommy dan belasan pemuda di situ. Narkoba sudah menggurita dan membelit suaminya. Setelah menikah, Rommy mengkonsumsi narkoba secara sembunyi-sembunyi.
“Saya mencintainya, kami tidak tahu bahaya dari penggunaan jarum suntik berganti-gantian itu,” kenang Dewi.
Belasan rekan satu angkatan suaminya satu per satu meninggal dunia. Tidak ada kecurigaan akan serangan virus mematikan. Kabar yang selalu beredar, mereka tewas karena OD (kelebihan dosis), sebagian karena TBC.
Setahun kemudian, Dewi melahirkan putra pertama. Anak mungil dan lucu itu lahir sehat. Namun, sembilan bulan kemudian, mulai sakit-sakitan. Dokter mendiagnosis, bayi mereka terkena flek. Tidak ada kecurigaan dia mengidap HIV. Obat dari dokter cukup manjur, kesehatan tubuhnya membaik. Tetapi, beberapa bulan kemudian kondisi Un kembali drop.
Kondisi Rommy semakin merosot. Sempat muncul kecurigaan ada sesuatu yang tidak beres. Dia memang sempat menjalani tes darah, tapi hasilnya disembunyikan. Padahal, ketika itu, Rommy sudah diketahui positif HIV.
“Saya sempat mendesak agar dia jujur, tetapi dijawab dengan amarah,” ujarnya.
Akhir 2006, Dewi melahirkan anak kembar, keduanya perempuan. Ternyata, satu anaknya lahir dalam kondisi mengenaskan. Badannya kuning, dia terus buang air berupa cairan. Di mulut anaknya muncul jamur kandiasis yang jika dikorek berdarah. Penderitaan tidak berhenti. Seluruh biaya dari sejumlah sanak saudara untuk perawatan Dewi dan anaknya di RS ternyata dibawa kabur Rommy.
Tidak hanya itu, sejumlah perhiasan keponakan juga dirampas sang suami untuk membeli narkoba. Selama 1,5 bulan, Rommy menghilang. Mukjizat Tuhan bersama Dewi, sang anak pulih meskipun badannya terus menyurut.
Tidak hanya itu, kabar gembira diterima Dewi, suaminya kembali, tetapi dengan kondisi fisik lemah. Rommy sudah makin kritis dan harus dirawat di RSUD Bekasi selama beberapa bulan. Akhirnya, Rommy meninggal dunia dengan vonis karena AIDS.
Kematian Rommy dan vonis AIDS itu membuat Dewi bagai tak ada asa. Dia terus memikirkan kondisi anak-anaknya, jangan-jangan mereka sudah tertular. Keputusan berat harus dia tempuh, memeriksa darahnya dan anak-anaknya. “Bagai disambar petir, dokter menyatakan saya, anak pertama saya, dan satu anak kembar saya positif HIV,” ratap Dewi sedih. Diakui, hasil tes darah itu memukulnya. Tak ada harapan lagi untuk hidup.
“Ketika itu, saya sempat ingin bunuh diri. Linglung, kenapa Tuhan jahat sekali sama saya,” kenang Dewi. Berbulan-bulan dia tidak bisa memaafkan suaminya yang membawa seluruh keluarga dalam petaka.
“Tapi saya harus menjalani hidup, masih banyak yang bisa saya lakukan demi orang lain yang mengalami hal seperti saya,” tambah Dewi yang mengaku sudah ditinggal saudara-saudaranya. Dia diasingkan. Bahkan, untuk bersalaman saja kerabatnya enggan.
Dari cerita diatas, dapat disimpulkan bahwa virus HIV juga bisa diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Virus HIV telah membuat Dewi menjadi ibu yang harus berjuang membesarkan anak-anaknya yang juga mengalami penyakit HIV/AIDS.
Cerita inspiratif diatas telah menggugah hati kita semua
Di lingkungan masyarakat, ODHA sering dikucilkan, diolok, dihindari karena mereka dianggap sebagai pembawa virus mematikan yang bisa saja menular. Sebagai akibatnya, ODHA hidup tanpa adanya pergaulan. Lingkungan pergaulan yang semakin sempit, membuat psikis ODHA semakin terpuruk, mereka akan beranggapan bahwa hidup yang mereka jalani sudah tidak ada gunanya lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s