Bulletin Jum’at InSAN Muslim Yang Berkreasi Tujuh Tanda Besar Hari Kiamat, Allah Menciptakan Kekasihnya Dengan Sebaik-baik Ciptaan, dsb. SMKN 12 Malang 7/23/2010



Sabda Rasulullah saw Mengenai Tujuh Tanda Besar Akhir Zaman
Sebagaimana kita ketahui, bahwa sebelum terjadinya Qiyamat, akan terjadi satu zaman yang dikatakan Akhir Zaman. Berbagai tanda akhir zaman itu telah diwahyukan kepada Yang Mulia Rasulullah saw. Agar hal ini bertambah jelas, maka akan diterangkan mengenai tanda-tanda tersebut yang berasal dari Sabda-sabda Rasulullah saw.
Tanda I
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Husain Ibnu Hasan dan Ali r.a. berkata: “Orang-orang Islam hanya tinggal pengakuannya saja. Apa-apa yang dijanjikan (tertulis) di dalam Alquran sudah tidak tampak lagi (di dalam umat ini) baik dari segi persaudaraan maupun kemuliaannya”
Tanda II
Di akhir zaman, orang-orang Islam akan meninggalkan Alquran. Artinya, secara umum, orang Islam sudah tidak mengetahui lagi isi dan rahasia-rahasia Alquran. Kalaupun ada, hanya digunakan untuk ‘perang’ kemerduan suara, untuk mengangkat sumpah, dibaca pada upacara kematian. Sedangkan maksud dari arti yang dibaca, tidak diketahui sama sekali. Padahal Alquran merupakan undang-undang atau jalan hidup kita hingga Kiamat.

Tanda III
Masjid menjamur dimana-mana, banyak terdapat hiasan-hiasan, ukiran-ukiran, akan tetapi kosong dari petunjuk. Dengan kata lain, walaupun banyak terdapat masjid-masjid, namun darinya tidak bisa mendatangkan kemenangan dan persatuan Islam melainkan hanya cerai-berai.
Tanda IV
Ulama-ulama tidak menjadi contoh atas ketinggian “akhlak” yang diajarkan Junjungan kita Rasulullah saw., tetapi didalam masjid-masjid, mereka mengumbar fitnah, hingga umat Islam bertambah cerai-berai, terjadi perpecahan antara anak dengan bapaknya, suami dengan istrinya, paman dan keponakannya, akhirnya terjadilah saling boikot, sesat-menyesatkan, kafir-mengafirkan, sampai-sampai diterbitkan kedalam buku-buku, majalah-majalah dan koran-koran.
Hal-hal diatas, merupakan nubuwwatan sabda Rasulullah saw, yaitu: “Tidak lama lagi, manusia akan mengalami zaman dimana Islam tinggal namanya saja, Quran hanya tinggal huruf-hurufnya, masjid ramai, akan tetapi sepi dari petunjuk. Ulama-ulama menjadi sejahat-jahat orang di kolong langit, karena dari mulutnya keluar fitnahan-fitnahan. Dan (fitnahan-fitnahan itu) akan kembali kepada diri mereka sendiri ”
Tanda V
Sesuai hadits yang diriwayatkan melalui Hadhrat Ali r.a., akan banyak permainan judi sehingga sangat banyak macamnya.
Tanda VI
Disebutkan dalam kitab Misykat bahwa minuman-minuman keras akan bertambah banyak. Hal ini sangat nyata dan bisa dibandingkan dengan masa dahulu. Bahkan di zaman ini, minuman keras (minuman beralkohol) sudah menjadi satu gaya hidup sebagian besar orang. Dimana-mana terjadi pemberantasan minuman keras tersebut, namun sebaliknya, pertambahan produksi minuman keras justru meningkat tajam.
Tanda VII
Di dalam Musnad Ibnu Abbas, disebutkan bahwa perempuan-perempuan di zaman itu walaupun berpakaian, akan tetapi hakikatnya mereka telanjang. Kita sudah banyak melihat menjamurnya fashionfashion yang dahulu tidak ada, yaitu banyaknya pakaian-pakaian berjenis model ketat.
Selain itu, para perempuan itu akan menyerupai dandanan laki-laki sudah banyak kita jumpai.
Tanda-tanda lainnya:
Orang Kristen akan menjadi banyak (HR Muslim Bab Fitan)
Orang Islam menjadi lemah (HR Ibnu Majah)
Banyak orang Islam yang menjadi Kristen (HR Tirmizi)
“Keadaan akhlak satu dengan yang lain, adalah saling tuduh-menuduh memaki-maki, fitnah-memfitnah dengan sengaja” (sabda Hadhrat Ali r.a. dalam kitab Hujajul Kiromah)
Perempuan dan laki-laki sama-sama berniaga (HR Tirmizi)
Bermacam-macam penyakit akan datang seperti wabah Ta’un (Cholera) dan orang mati secara tiba-tiba (Hujajul Kiromah)
Jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki (HR Muslim)
Akan datang Imam Mahdi (HR Daaru Quthni)
Walaupun masa tersebut akan terjadi, namun janganlah kita, sebagai kaum muslimin menjadi penyempurna nubuwwatan Rasulullah itu. Oleh karena itu:
Perdalamlah agama Islam melalui Alquran dan AMALKANLAH.
Isilah masjid-masjid dengan petunjuk Alquran dan Sabda Rasulullah saw.
Ramaikan masjid dengan kegiatan-kegiatan ruhani, sehingga kesibukan-kesibukan dan pergaulan-pergaulan duniawi menjadi terkikis.
Janganlah saling menghujat satu-muslim dengan lainnya. apalagi didalam Masjid. Jika ada hal yang seperti itu, maka janganlah mengikuti ‘ulama’ tersebut karena itulah ‘ulama’ yang dicap oleh Allah Ta’ala sebagai sejahat-jahat makhluk di kolong langit.
Pererat pergaulan sesama Muslim, janganlah bercerai berai
Tidak ikut dalam judi yang sekecil-kecilnya. Tegur mereka yang melakukannya.
Jangan terjebak dalam minuman keras, karena minuman keras itu merupakan akar dari kejahatan dan dosa-dosa lainnya.
Bagi para muslimat, Janganlah berpakaian ketat dan mengikuti mode yang mengarah kepada dandanan seperti laki-laki. Ingatlah Rasulullah saw pernah mendapat Kasyaf dalam Isra dan Mi’raj bahwa kebanyakan, perempuanlah yang menjadi penghuni neraka. Maka janganlah kita termasuk dalam golongan itu.
Semoga Nasehat-Nasehat Rasulullah saw ini menjadi pegangan hidup kita. Amin
Di kutip dari : http://www.cinta-islam.web.id/artikel-cinta-islam/1-islam/34-sabda-rasulullah-saw-mengenai-tujuh-tanda-besar-akhir-zaman.html dan
Disadur dari Buku: Kebenaran Akhir Zaman oleh Mln. Rahmat Ali

ALLAH CIPTAKAN KEKASIHNYA DENGAN SEBAIK-BAIK CIPTAAN
Sabda Baginda SAW, “Sesungguhnya Allah menulis tentang takdir ciptaan-Nya 50,000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” Ketika Baginda SAW ditanya, “Bilakah engkau dilantik sebagai nabi?” Jawab Baginda SAW, “Ketika (Nabi) Adam antara roh dan jasad.” (Diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban dan Baihaqi.)
Imam Abu Jaafar Muhammad Al-Baqir r.anhu ditanya, “Bagaimana Rasulullah SAW mendahului para nabi sedangkan Baginda SAW terakhir diutuskan?” Jawabnya. “Tatkala Allah mengambil perjanjian dengan sekalian roh dari zuriat Nabi Adam, lalu Allah bertanya mereka, “Tidakkah Aku ini Tuhan kamu semua?”, (sebagaimana Firman-Nya dalam Surah Al-A‘Araf ayat 172) adalah Baginda SAW yang pertama menjawab, “Bahkan”, demikian itu Baginda SAW lah yang mendahului para nabi lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Sahl Al-Qathan dalam kitabnya “Amaliyah”, juga disebut oleh As-Solihiy dalam kitabnya “Subul Al-Huda War Rosyad” serta Imam Suyuti dalam “Al-Khosois Al-Kubra”.)
Diriwayatkan dari Sya’bi, seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah!Bilakah engkau dilantik menjadi nabi?” Jawab Baginda SAW, “Ketika (Nabi) Adam antara roh dan jasad, ketika itu Dia mengambil perjanjian dariku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan Ibnu Ishaq.)
Diriwayatkan dari Saidina ’Ali bin Abi Talib r.anhu,bahawa beliau berkata, “Allah tidak akan membangkitkan seorang nabi pun-bermula dari Nabi Adam AS hingga mereka yang selepasnya-kecuali mereka semua telahpun mengangkat janji setia kepada Nabi Muhammad SAW iaitu jika mereka dibangkitkan kelak akan beriman dengan Baginda SAW dan membantunya, maka begitu juga dijanjikan terhadap kaum masing-masing.” (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir At-Tobari dalam tafsirnya.)
Diriwayatkan: Tatkala Allah menciptakan cahaya (nur) Nabi Muhammad SAW, Dia memerintahkan agar cahaya Baginda SAW tersebut memandang kepada sekalian cahaya para nabi lain, lalu cahaya Baginda SAW menyinari ke atas cahaya para nabi lain. Lalu cahaya sekalian para nabi bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhan kami! Cahaya apakah yang sedang menerangi kami ini?” Firman Allah, “Inilah dia cahaya Muhammad bin Abdullah, jika kamu beriman dengannya akan Aku jadikan kamu sekalian para nabi.” Mereka menjawab, “ Kami beriman dengan kenabiannya.” Allah berfirman lagi, “Aku akan menjadi saksi atas perjanjian kamu ini.” Mereka menjawab, “Ya”. Demikian Allah berfirman dalam Surah Ali-‘Imran ayat 81 yang bermaksud: Dan ingatlah, ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi dengan berfirman, “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu iaitu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, nescaya kamu akan beriman kepadanya dan membantunya dengan bersungguh-sungguh. Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku ini?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman lagi, “Jika demikian, saksikanlah (wahai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Disebutkan oleh Imam As-Subki dalam kitabnya “At-Takzim Wal Minnah”)
Imam As-Subki dalam kitabnya “At-Takzim Wal Minnah” menyebut, “Dalam ayat Al-Quran ini menerangkan betapa agungnya kedudukan Baginda SAW yang tidak dapat disembunyikan lagi, kerana kenabian Baginda SAW serta risalahnya adalah umum bagi sekalian makhluk dari zaman (Nabi) Adam hingga kiamat,maka jadilah sekalian para nabi serta umat mereka dari kalangan umat Baginda SAW sebagaimana sabda Baginda SAW, “Aku diutuskan kepada manusia keseluruhannya.” Iaitu tidak dikhususkan manusia pada zaman Baginda SAW sahaja bahkan mereka yang sebelumnya, kerana demikian menerangkan sabda Baginda SAW, “Aku dilantik sebagai nabi sedangkan (Nabi) Adam masih antara roh dan jasad.”
Apabila kita mengetahui demikian, maka tentunya Nabi Muhammad SAW adalah nabi sekalian Anbiya’,apatah lagi lebih jelas ketika di Akhirat: Sekalian nabi berada di bawah panji Baginda SAW, ketika di dunia demikian juga: Iaitu pada malam Israk Mikraj, Baginda SAW mengimami solat antara para nabi lain.
Diriwayatkan daripada Ka’ab Al-Ahbar berkata, “Tatkala Allah menghendaki bagi menciptakan Nabi Muhammad SAW, Dia memerintahkan kepada Jibril agar membawa tanah dari pusat bumi yang tanah tersebut bercahaya yang menyinari. Lalu Jibril mendatangi kepada malaikat lain dan Jibril mengambil tanah dari tapak kubur Baginda SAW yang mulia iaitu yang berwarna putih yang bersinar-sinar, lalu tanah tersebut diuli bersama air Tasnim (sejenis air sungai yang mengalir dalam syurga) hingga membentuk seperti permata putih yang terpancar cahaya keagungannya, lalu telah ditawaf sekalian malaikat di sekitar ’Arasy, Kursi, yang berada di langit,bumi,bukit bukau serta lautan. Oleh demikian, sekalian makhluk Allah telah mengenali kemuliaan Baginda SAW sebelum dikenali (Nabi) Adam.” (Diriwayatkan oleh Abu Saad Al-Naisaburi dalam kitab “Syaraf Al-Mustafa” dan Ibnul Jauzi dalam “Al-Wafa”).
Berkata Abdullah bin ‘Abbas r.anhuma: Asal tanah yang dicipta Rasulullah SAW itu dari perut bumi di Mekah iaitu dari tapak binaan Kaabah di pusat bumi, maka jadilah Baginda SAW itu dituruti sekalian ciptaan lain”.
Dari Jabir bin Abdullah r.anhuma bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah ciptaan pertama dari makhluk Allah sebelum diciptakan segala-galanya?” Sabda Rasulullah SAW, “Wahai Jabir! Sesungguhnya Allah menciptakan cahaya (nur) nabi engkau sebelum Dia menciptakan segala-galanya, lalu Dia menjadikannya sebagai putaran kekuasaan-Nya terhadap apa yang dikehendaki-Nya.Pada masa itu belum lagi tercipta Luh Mahfuz, Qalam, syurga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. Tatkala Allah menghendaki menciptakan ciptaan-Nya yang lain, lalu Allah membahagikan dari cahaya tersebut (cahaya Baginda SAW tadi) kepada empat bahagian (juzuk): Bahagian pertama diciptakan Qalam, bahagian kedua Luh Mahfuz, bahagian ketiga ‘Arasy dan manakala bahagian keempat Allah bahagikan lagi kepada tiga bahagian yang lain. Lalu Allah menciptakan bahagian pertama tadi malaikat bagi menanggung ’Arasy, bahagian kedua Kursiy, bahagian ketiga malaikat-malaikat lain, manakala bahagian keempat Allah bahagikan lagi kepada empat juzuk yang lain, lalu Allah ciptakan bahagian pertama langit, bahagian kedua lapisan bumi, bahagian ketiga syurga dan neraka, manakala bahagian keempat dibahagikan lagi kepada empat bahagian lain: Lalu Allah menciptakan dari bahagian pertama penglihatan bagi orang-orang mukmin, bahagian kedua hati mereka iaitu mengenali Allah (makrifatullah) dan bahagian ketiga cahaya kalbu mereka iaitu kalimah Tauhid, Lailahaillah Muhammad Rasulullah. (Disebut hadis ini oleh Imam Al-Qostalani dalam kitab “Al-Mawahib”, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makki dalam “Fatawa Al-Hadithiyah”.)
Diriwayatkan dari Saidina ‘Ali bin Husain dari bapanya (Saidina Husain bin ‘Ali) dan dari datuknya (Saidina ‘Ali bin Abi Talib) dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ciptaan cahayaku di hadapan Tuhanku selama 14 ribu tahun sebelum ciptaan (Nabi) Adam.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Qothan dalam ahkamnya,juga disebut oleh As-Solihiy dalam “Subul Al-Huda War Rosyad”.)
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.anhuma: Adalah Nabi Adam itu diciptakan pada hari Jumaat iaitu antara waktu gelincir matahari hingga waktu Asar, kemudian Allah menciptakan pasangannya Hawa’ dari tulang rusuk sebelah kiri di ketika tidurnya. Tatkala Adam terjaga dari tidurnya dia melihat Hawa’ berada di sebelahnya lalu dihulurkan tangannya kepada Hawa’ akan tetapi ditegur oleh malaikat. Bertanya Adam, “Tidakkah dia diciptakan untukku?” Jawab malaikat, “Hingga kamu tunaikan mahar terlebih dahulu.” Adam bertanya, “Apakah mahar tersebut?” Jawab malaikat, “Iaitu selawat ke atas Muhammad sebanyak tiga kali” atau dalam riwayat lain 20 kali. (Rujuk “Al-Mawahib Al-Ladunniyah” oleh Imam Al-Qostolani dan “Syarah Al-Kabir” oleh Sayyidi Ahmad Dardir dan “Bustan Al-Wa’izin” oleh Ibnul Jauzi.)
Diriwayatkan tatkala Nabi Adam dikeluarkan dari syurga, Baginda melihat tertulis pada tiang-tiang ‘Arasy dan setiap tempat dalam syurga nama “Muhammad” diiringi selepas nama Allah, lalu berkata Adam, “Wahai Tuhan! Siapakah Muhammad ini?” Firman Allah, “Ini ialah anakmu yang jika tidak dia nescaya Aku tidak akan menciptakanmu.” Berkata Adam lagi, “Wahai tuhan! Dengan kehormatan anak ini (Nabi Muhammad) rahmatilah bapanya ini (Nabi Adam).” Lalu diseru : Wahai Adam! Jika kamu meminta syafaat kepada Kami dengan Muhammad nescaya Kami akan memberikan syafaat padamu.” (Disebut oleh Al-Waqidi dalam “Futuh As-Syam” dan Al-Qostalani dalam “Al-Mawahib”.)
Sabda Rasulullah SAW, “Tatkala Adam melakukan kesilapan dengan memakan buah larangan Allah dalam syurga,Baginda berkata, “Wahai Tuhan! Aku memohon dengan hak Muhammad agar Engkau ampuni aku.” Allah berfirman, “Wahai Adam! Bagaimana engkau mengenali Muhammad sedangkan Aku belum menciptakannya?” Adam menjawab, “Tatkala Kau menciptakan aku, Kau meniupkan roh ke dalam jasadku maka aku mengangkat kepalaku lantas aku melihat pada tiang-tiang ‘Arasy tertulis ((Lailaha illallah Muhammad Rasulullah)), maka tahulah aku bahawa Engkau tidak akan menyandarkan nama seseorang kepada-Mu kecuali dia adalah yang Engkau kasihi dikalangan makhluk-Mu.” Firman Allah, “Benarlah engkau wahai Adam. Dia amat Aku cintai berbanding sekalian makhluk lain. Jika engkau meminta daripada-Ku dengan haknya nescaya Aku ampuni engkau. Jika tidak kerana Muhammad, tidak Aku ciptakanmu wahai Adam. Dia ialah nabi yang terakhir dari zuriatmu.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim, disahkan oleh Al-Baihaqi dan Abu Nu’aim dalam Ad-Dalail serta At-Tobrani dalam Ausat Wasoghir juga Ibnu ‘Asakir dan Al-Ajriyy dari Saidina Umar Al-Khattab r.anhu.)
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Asakir dari Salman berkata: Telah datang Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu berfirman, “Jika Aku mengambil (Nabi) Ibrahim sebagai teman-Ku,maka Aku mengambilmu sebagai kekasih-Ku. Tidaklah Aku ciptakan sesuatu makhluk yang lebih mulia daripadamu. Sesungguhnya telah Aku ciptakan dunia serta penduduknya agar mereka mengetahui kemuliaan dan kedudukanmu di sisi-Ku. Jika tidak keranamu nescaya tidak aku ciptakan dunia ini.”
Tatkala mengandung Hawa’ bagi anaknya yang bernama Syith,telah terpancar kemuliaannya kerana Nabi Muhammad SAW. Ini kerana cahaya Baginda SAW berpindah dari Nabi Adam kepada anaknya Syith. Sebelum kewafatan Nabi Adam, Baginda mewasiati anaknya Syith yang kemudiannya Syith juga mewasiati anaknya dengan wasiat yang sama: Iaitu agar meletakkan cahaya yang mulia ini hanya kepada wanita yang suci. Jadilah wasiat ini berterusan dari satu generasi ke satu generasi hingga tiba kepada Abdul Mutalib dan anaknya Abdullah.
Allah telah mensucikan nasab keturunan Baginda SAW dari ‘Sifah Jahiliyyah’ iaitu cara pernikahan kaum jahiliyah yang tentunya tidak berlaku kepada datuk moyang Nabi Muhammad SAW termasuk ayahandanya Saidina Abdullah dan bondanya Saidaitina Aminah.
Terjemahan buku kecil bertajuk: “Saidina Muhammad SAW, Adalah Nabi Antara Anbiya’ dan Ciptaan Pertama” tulisan Syeikh Abu Hashim As-Syarif cetakan Maktabah Ar-Rahmatul Muhdah Mansurah, Mesir.
Pada suatu hari, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bermajelis bersama para shahabatnya dan memberikan pelajaran kepada mereka. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟
“Perhatikanlah (wahai para shahabat), maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya tiga kali. Kemudian para shahabat mengatakan: “Tentu wahai Rasulullah.”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun menerangkan:
الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ أَوْ قَوْلُ الزُّوْرِ.
“(Dosa-dosa yang paling besar itu adalah) syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian palsu (perkataan dusta).” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu )
Itulah sepenggal kisah bagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membimbing dan mengajarkan ilmu agama ini kepada para shahabatnya. Beliau adalah seorang yang sangat bersemangat dalam mengajarkan segala permasalahan agama ini kepada umatnya.
Beliau mengajarkan kebaikan agar umatnya melakukan kebaikan tersebut. Dan beliau juga menerangkan beberapa bentuk kejelekan agar umatnya menjauhi kejelekan tersebut.
Dalam hadits tersebut, secara khusus Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan sekaligus memperingatkan beberapa bentuk perbuatan dosa yang paling besar. Betapa pentingnya peringatan tersebut sampai-sampai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya tiga kali. Perbuatan-perbuatan itu adalah:
1. Syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Para pembaca yang dimuliakan Allah ‘Azza wa Jalla, Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang Maha Tunggal, Dialah satu-satunya yang menciptakan alam semesta ini, Dialah satu-satunya Dzat yang memberi rizki kepada seluruh makhluk-Nya, dan Dialah satu-satunya yang mengatur alam semesta ini. Maka dari itulah, Allah ‘Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi, ditujukan kepada-Nya segala macam permintaan dan do’a, dimintai rizki, dimintai pertolongan dan perlindungan.
Sangatlah tidak pantas jika seorang hamba beribadah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, memohon dan meminta kepada makhluk dengan permintaan yang tidak mungkin bisa dipenuhi kecuali oleh Allah ‘Azza wa Jalla saja, seperti rizki, keselamatan, atau menyandarkan nasib hidupnya kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Maka sangatlah tepat ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memposisikan syirik ini sebagai dosa yang paling besar, karena seorang yang berbuat syirik berarti dia telah berbuat lancang dan melampaui batas terhadap Penciptanya. Menjadikan tandingan / sekutu bagi Allah ‘Azza wa Jalla, padahal Allah ‘Azza wa Jalla adalah Maha Tunggal dan tidak ada sekutu baginya. Sungguh ini adalah kezhaliman yang sangat besar sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla firmankan (artinya):
“Sesungguhnya kesyirikan merupakan kezhaliman yang besar.” (Luqman: 13)
Betapa zhalimnya ketika seorang muslim menyembelih hewan untuk kemudian dipersembahkan kepada makhluk yang diyakini memiliki kekuatan sehingga dia akan terhindar dari bencana, padahal Allah ‘Azza wa Jalla lah satu-satunya Dzat yang mampu untuk mendatangkan bencana.
Dan betapa zhalimnya ketika seorang muslim meminta-minta keselamatan dan rizki yang lancar kepada orang-orang shalih yang sudah meninggal di samping kuburannya, padahal Allah ‘Azza wa Jalla sajalah yang mampu untuk memberikan keselamatan dan rizki kepada makhluk-Nya.
Oleh karena itulah ketika shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ؟
“Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”
Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ.
“Engkau menjadikan tandingan bagi Allah (menyekutukan Allah) padahal Allah lah yang telah menciptakanmu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Ketika syirik telah diposisikan sebagai dosa yang paling besar, maka tentunya adzab dan bencana yang akan ditimpakan kepada pelakunya pun juga sangat besar. Allah ‘Azza wa Jalla mengancam untuk tidak akan mengampuni pelaku kesyirikan selama dia belum bertaubat ketika meninggal.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48)
Amalan ibadah seseorang yang dikerjakan dengan susah payah dan kesungguhan yang besar akan hilang nilainya dan sia-sialah apa yang dia amalkan tadi dengan sebab kesyirikan yang dia lakukan. Yang demikian itu karena Allah ‘Azza wa Jalla akan menghapus nilai amalan seseorang manakala dia telah berbuat lancang dengan menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan dalam ayat-Nya (artinya):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: jika kamu mempersekutukan (berbuat syirik) kepada Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65)
Dan pada akhirnya, sungguh malang nasib seorang yang berbuat syirik karena tempat tinggal terakhirnya adalah di An Nar (neraka) dan dia kekal di dalamnya karena Allah ‘Azza wa Jalla telah mengharamkan baginya untuk masuk ke dalam Al Jannah sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan (artinya):
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Al Jannah, dan tempatnya adalah An Nar, tidaklah ada bagi orang-orang yang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al Ma’idah: 72)
Dan sebagaimana juga yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدٌّا دَخَلَ النَّارَ.
“Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan dia berdo’a (beribadah) kepada selain Allah (sebagai) tandingan / sekutu (bagi Allah), maka dia akan masuk ke dalam An Nar. (HR. Al Bukhari)
2. Durhaka kepada kedua orang tua
Durhaka kepada kedua orang tua diposisikan sebagai dosa besar setelah syirik. Yang demikian itu karena perintah untuk berbuat baik kepada orang tua sering diiringkan dan diletakkan setelah perintah untuk beribadah dan mengesakan ibadahnya tersebut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini menunjukkan besarnya hak orang tua untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari anak-anaknya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):
“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua …” (An Nisa’: 36)
Durhaka kepada kedua orang tua apapun bentuknya merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ …..
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu (yakni orang tua), …” (Muttafaqun ‘Alaihi).
Ketika kedua orang tua sudah lanjut usia dan lemah, mestinya mereka mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sungguh-sungguh dari anak-anaknya. Tetapi apa yang terjadi di masyarakat kita justru sebaliknya, mereka menitipkan orang tuanya di panti jompo atau yang semisalnya. Sungguh ini merupakan salah satu bentuk kedurhakaan anak kepada orang tuanya.
Para pembaca yang dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla, masih banyak lagi contoh sikap durhaka anak kepada orang tuanya. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita berusaha mengamalkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla untuk berbuat baik kepada orang tua kita dan menunaikan hak-hak mereka sebagaimana yang dituntunkan oleh syari’at Islam yang mulia ini.
3. Persaksian palsu atau perkataan dusta
Larangan untuk berkata dusta ini telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan dalam ayat-Nya yang mulia (artinya):
“… maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (Al Hajj: 30)
Kalau anda perhatikan ayat tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla mengiringkan larangan berkata dusta dengan perintah untuk menjauhi perbuatan syirik dan meninggalkan berhala-berhala yang disembah selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perbuatan syirik merupakan perkara besar yang diperingatkan dalam agama ini, maka perkataan dusta juga demikian, karena tidaklah dua perkara disebutkan dalam satu rangkaian kalimat melainkan di sana terkandung substansi permasalahan yang tidak jauh berbeda, dan dalam pembahasan kali ini adalah keduanya sama-sama perbuatan terlarang yang menyebabkan pelakunya terjatuh ke dalam perbuatan dosa besar. Wallahu A’lam.
Ketika kita membaca Al Qur’an, kita akan mendapati di ayat yang ke 63 dan seterusnya dari surat Al Furqan, di situ disebutkan beberapa ciri hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Dan di antara ciri dan sifat mereka adalah tidak memberikan persaksian palsu sebagaimana disebutkan dalam ayat yang ke 72 (artinya):
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.” (Al Furqan: 72)
Para pembaca yang mulia, mengapa dusta yang kelihatannya perkara sepele dan diremehkan oleh sebagian manusia itu, ternyata merupakan salah satu bentuk dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar yang dilarang dalam agama? Mari kita perhatikan pemaparan berikut.
Berkata dusta tergolong dosa besar karena pangkal dari kejelekan dan kerusakan yang dilakukan manusia itu bernuara pada perbuatan ini, karena dusta merupakan amalan yang bisa mengantarkan kepada kejelekan sebagaimana sabda Nabi ‘Azza wa Jalla:
وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُحُوْرِ وَإِنَّ الْفُحُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً.
“Dan sesungguhnya dusta itu bisa mengantarkan kepada kejelekan, dan kejelekan itu bisa mengantarkan kepada An Nar, dan senantiasa seseorang itu berbuat dusata sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Seorang yang berdusta berarti dia telah melanggar salah satu prinsip penting dalam Islam, karena di antara misi yang diemban Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajarkan Islam adalah menjunjung tinggi sikap kejujuran. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan ketika ditanya oleh Heraklius (kaisar Romawi ketika itu) tentang pokok-pokok ajaran yang dibawa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
اعْبُدُوا اللهَ وَحْدَهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُوْلُ آبَاءُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ.
“Beribadahlah kepada Allah satu-satunya dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, tinggalkan ajaran-ajaran nenek moyangmu (yang tidak baik, pen), beliau juga memerintahkan kepada kami untuk shalat, jujur, menjaga diri dari perbuatan yang haram, dan menyambung tali silaturrahim.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Para pembaca, balasan apa yang pantas untuk dirasakan kepada orang yang suka berdusta? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bermimpi (dan tentunya mimpi beliau adalah benar), di mana dalam mimpi tersebut beliau melihat manusia disiksa dengan siksaan yang beragam sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan. Dan di antara yang beliau lihat adalah sebagaimana yang dituturkan dalam sabdanya (artinya):
“Kemudian kami mendapatkan seseorang yang terlentang, sedangkan di dekatnya ada seorang yang berdiri dengan memegang semacam gergaji dari besi, kemudian ia membelah salah satu sisi mukanya yaitu dari mulut sampai ke tengkuknya, dari hidung sampai ke tengkuknya, dari mata sampai ke tengkuknya, kemudian pada sisi muka yang lain dengan perlakuan yang sama dengan sisi muka yang pertama tadi. Apabila telah selesai, maka muka itu utuh kembali dan apabila sudah utuh maka diperlakukan lagi seperti sebelumnya.”
Pada mulanya beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu apa yang menyebabkan orang tadi disiksa dengan siksaan yang seperti itu. Kemudian dikatakanlah kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam:
وَأَمَّا الرَّجُلُ الّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ اْلآفَاقَ.
“Dan adapun seorang yang engkau datangi dan dibelah salah satu sisi mukanya yaitu dari mulut sampai ke tengkuknya, dari hidung sampai ke tengkuknya, dari mata sampai ke tengkuknya, itu adalah seorang yang suka membuat berita bohong sampai berita itu tersebar ke mana-mana.”
Kisah tersebut merupakan potongan hadits yang panjang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari.
Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla menjauhkan kita dan kaum muslimin semuanya dari perbuatan tercela ini.
Menjauhi dosa besar, penghapus dosa kecil
Di antara bentuk kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya adalah dijadikannya amalan kebaikan itu sebagai penghapus dari amalan kejelekan. Setiap amalan shalih yang dikakukan oleh seorang muslim, maka amalannya tadi akan menghapus dosa dan kesalahan yang dia lakukan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya):
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)
Oleh karena itulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Dan iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya (kebaikan tadi) akan menghapuskannya.” (HR. At Tirmidzi)
Dan di antara bentuk kebaikan pada diri seorang hamba adalah dia menjauhi perbuatan-perbuatan yang tergolong dosa besar. Lihatlah wahai pembaca, sebatas dia menjauhi dan tidak melakukan dosa besar, sudah terhitung baginya kebaikan yang akan menghapus dosa kecil yang pernah dia lakukan. Inilah bukti rahmah dan kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla yang telah berfirman dalam kitab-Nya (artinya):
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang megerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Al Jannah).” (An Nisa’: 31)
Sumber: http://www.assalafy.org Judul: Peringatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Tiga Dosa Besar
Sekilas Redaksi
Assalamu’alaikum Wr.Wb,
Alhamdulillahhirrobil A’lamin akhirnya kami dapat menyusun suatu bacaan yang semoga dapat berguna bagi insan muslim dan muslimah di SMKN 12 Malang ini. Seperti yang sudah pembaca ketahui sebagian banyak isi dalam bacaan ini kami tag dari internet atau juga dari bacaan-bacaan yang telah berada di suatu buku. Jika pembaca kurang puas dengan apa yang telah kami sampaikan dalam bacaan ini pembaca dapat memberikan kritik dan saran kepada kami. Pembaca juga dapat mengirimkan bacaan dan puisi atau pengetahuan yang bertema islami melalui alamat email kami: akhirunakawa@ymail.com.
Sebulumnya pasti ada diantara para pembaca yang ingin tahu mengapa majalah ini diberi nama “Bulletin Jum’at?” Karena bacaan ini memang kita terbitkan setiab hari Jum’at selain alasan tersebut kami masih mempunyai banyak alasan yang musti para pembaca pertimbangkan yaitu karena Hari Jum’at adalah salah satu dari 3 hari raya agama Islam. Amalan-amalan pada hari jum’at adalah amalan-amalan yang diutamakan pahalanya. Karena hari jum’at memiliki nilai agama yang besar, maka kaum muslimin dianjurkan untuk menggunakan hari jum’at sebagai hari untuk mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Mulia. Yaitu sala satunya dengan membaca-bacaan yang dapat mendekatkan kita Kepada Agama dan tentunya kepada Allah Yang Maha Mulia. Semoga amalan dan niat baik kita diterima oleh Allah SWT. (Amiiiiien) ;-p
Oh, ya sebelum kami mengakhiri seluruh bacaan ini tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyukseskan kegiatan ini. Dan terutama bagi pembaca setia kami. Dan Mohon Maaf sebesar-besarnya jika ada tulisan yang tidak sesuai atau tidak berkenan dihati pembaca.
Sekian dari kami,
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s