Cerpen: Takdir yang Semu


Takdir Yang Semu

Oleh: Warda Firdausi Karimah

                “Apakah benar setiap wanita di bumi ini memiliki bagian dari tulang rusuk  pasangannya yang telah di takdirkan oleh Allah? Jika benar,,, Apakah mungkin tulang rusukku ini bagian dari seseorang yang telah ditakdirkan untukku. Namun bagaimana jika aku telah meninggal sebelum menemukan pemilik tulang rusuk ini, apakah tulang rusuk ini akan hilang begitu saja?”

            “Brrakk…..!!! ”

            Tiba-tiba terdengar suara benturan benda yang terdengar sangat keras sekali dari kejauhan…  Balqist gadis cantik berkerudung dan berperawakan tinggi ini tampak heran, tentang apa yang dilihatnya dari kejauhan. Tampak banyak sekali orang-orang berkerumun di depan parkiran masjid A.R Farudin.

            Tidak biasanya orang-orang berkerumun disana, jika bukan waktunya sholat jum’at atau ada acara besar. Karena Balqist merasa penasaran diapun segera menuju ketempat ramai tersebut. Dan betapa kagetnya dia, melihat sahabat terdekatnya jatuh tersungkur di tengah-tengah keramaian.

“Zah… Zah….Zahro! Zahro! Bangun Zahroh!! Kamu tidak apa-apa kan? Zahro! Tolong! Tolong teman saya… Tolong telfon ambulan atau bantuan secepat mungkin!” Ucap Balqist meminta bantuan kepada orang-orang.

“Wiu… Wiu…. wiu…”

Mobil ambulanpun datang dengan cepat. Balqist masih dengan isak tangisnya, dengan setia menemani sahabatnya yang masih belum sadarkan diri juga.

Hari demi hari telah berlalu, namun Zahroh belum juga sadar. Namun kamar dimana Zahroh dirawat tidak pernah sepi dari penjenguk yang senangtiasa mengucapkan do’a-do’a demi kesehatan Zahro. Ibu, Ayah, adik, kakak-kakak dan saudara-saudara Zahrohpun bergiliran menjaga Zahroh. Teman-Teman dan tidak Lupa sahabat Zahropun bergantian menjenguknya.

“Ibu… Ibu…. kenapa saya disini bu? Dimana ini bu? Aku tidak pernah melihat tempat ini bu..”

“Zahro! Zahroh! Kamu sudah bangun Nak! Alhamdulillah ….. Sebenarnya apa yang terjadi nak sehingga kamu bisa seperti ini? Kamu sekarang berada dirumah sakit nak.”

“Ibu, aku sendiri tidak mengerti apa yang telah terjadi… waktu itu Zahroh ingin ke Masjid untuk sholad, tapi tiba-tiba Zahroh mendengarkan suara klakson mobil, dan semuanya menjadi hitam… aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi bu…”

“Baiklah nak… Jika kamu tidak ingat tidak usah di paksakan… Apakah kamu sudah merasa baikkan nak? Apa ada yang kamu inginkan nak?”

“Tidak bu, Zahroh sudah cukup bahagia ibu ada disini bersama Zahroh… Aku kangen samu ibu. Ibu… Maafkan Zahro yah, kalau sudah banyak merepotkan ibu, dan belum bisa membahagiakan ibu…. Do’akan Zahro selalu ya bu.”

“Tentu saja ibu selalu mendo’akan kamu nak… Setiap saat walaupun kamu tidak memintanya.”

Kabar baik inipun langsung tersebar ke sanak saudara Zahroh. Semuanyapun Ikut mengucapkan syukur Alhamdulillah, atas pulihnya Zahroh dari koma. Namun Zahroh belum bisa diperbolehkan pulang. Karena kondisinya belum benar-benar pulih.

Hari-hari Zahroh dirumah sakit yang menurut Zahroh sendiri sangat membosankanpun diisi oleh Zahroh untuk menulis buku harian favoritnya. Buku harian yang berisi pertanyaan-pertanyaan, keluh kesah, harapan-harapan serta curhatan Zahroh tentang kehidupannya yang menurutnya sangat penuh dengan teka-teki dan misteri yang susah sekali dipecahkan dengan akal manusia biasa.

“Pyar….!”’

Terdengar benda pecah. Dan tiba-tiba disusul suara Zahroh yang minta tolong karena kesakitan.

“Ibu! Tolong Zahroh bu… Astaughfirullah… Kepala Zahroh sakit sekali bu!”

Ibu yang berada diluar kamar dimana Zahroh di rawat pun bergegas masuk. Dan ternyata Ibu sangat terkejut karena melihat anak kesayangannya jatuh tersungkur sambil memegang kepalanya yang didekatnya ada pecahan gelas yang disekitarnya berceceran air putih. Dan diikuti oleh suara tangisan dan jeritan kesakitan dari Zahroh. Ibu pun bergegas memanggil dokter untuk melihat dan memeriksa keadaan Zahroh.

Setelah beberapa saat dokter pun keluar dari ruangan dimana Zahroh dirawat.

“Maaf bu, atas keadaan ini..”

“Maksud Dokter apa?”

“Nampaknya anak ibu harus segera di operasi. Jika tidak kami tidak yakin nyawanya  akan tertolong. Dan  jika ibu setuju tolong segera tanda tangani surat persetujuan ini.” Kata dokter sambil menunjukkan berkas yang harus ditandatangani oleh ibu Zahroh.

“Tapi, kenapa anak saya harus dioperasi dok? Kenapa terjadi tiba-tiba seperti ini? Bukannya anak saya telah pulih dari komannya?”

“Begini bu, anak ibu ternyata terkena benturan yang sangat keras di bagian kepalanya, dan kami menduga bahwa ada pendarahan kecil di dalam kepalanya. Dan takutnya ini sudah terlanjur lama baru kita ketahui bu… sekarang keadaan anak ibu bisa di bilang gawat, telat sedikit dalam penanganannya saja bisa berakibat fatal bu.”

Lalu ibupun segera menandatangani surat tersebut. Dan proses operasi Zahropun dimulai dan berjalan sangat lama. Detik demi detik telah berlalu, namun operasi itu belum juga selesai. Ibu yang ditemani oleh saudara-saudara Zahroh menangis dan juga tak henti-hentinya membacakan do’a-do’a demi keselamatan anaknya.

Tiba-tiba lampu di depan pintu ruang operasi yang tadinya merah berubah menjadi hijau, pertanda operasi sudah usai nampaknya. Dokterpun keluar, namun hanya bisa berdiam diri saja. Ibu yang sudah dari tadi menunggu, tak sabar untuk bertanya tentang keadaan anak tercintanya itu.

“Bagaimana dok, kondisi putri saya?”

“Maaf bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.. namun anak ibu tak dapat diselamatkan. Kami turut berduka.”

“Tidak… Tidak mungkin dok…. Zahroh anak yang kuat… dia tidak mungkin tidak dapat melewati hal seperti ini….”

“Maaf bu, namun itulah kenyataannya..”

“Inalillahi wa Inalillahi roji’un… Zahroh”  ucap ibu.

Ibu bergegas masuk untuk melihat anaknya untuk  yang terakhir kalinya. Ia tak tahan untuk menahan tangisannya…. Ibu hanya bisa menangis dan menangis melihat anak kesayangannya itu telah terbaring lemas tak bernyawa. Dan akhirnya ibupun tersadar mungkin memang ini waktu yang terbaik untuk Zahro kembali kepada sang penciptanya yaitu Allah SWT, Zahroh sudah ditakdirkan melanjutkan perjuangannya di alam yang lain. Semoga amal dan ibadah Zahroh diterima oleh Allah SWT.

Akhirnya ibu sudah tegar kembali, pemakaman Zahrohpun segera di urus. Semua sanak saudara, kerabat dekat, serta sahabat-sahabat Zahroh datang. Mereka semua ikut sedih dan merasa kehilangan Zahroh. Mereka juga tak lupa untuk mendo’akan Zahroh.

Hari demi hari telah berlalu, Balqist mendapat telefon dari ibu Zahroh untuk membantunya mengemasi barang-barang Zahroh yang sekiranya dapat di gunakan oleh orang yang lebih membutuhkan. Ya, ibu berfikir akan lebih baik memberikan barang-barang milik Zahroh yang masih layak kepada orang yang lebih membutuhkan, dia tidak dapat mengurusnya sendiri. Ibu berfikir mungkin lebih baik meminta bantuan Balqist agar lebih mudah memilah-milah barang mana yang masih layak diberikan kepada orang lain.

“Tok… tok.. tok.. Assalamu’alaikum “

“Wa’alaikumsalam…… Oh, nak Balqist, silahkan masuk nak.”

“Terimakasih bu, bagaimana kabar ibu?”

“Alhamdulillah baik nak, terimakasih ya sudah datang untuk membantu ibu.”

“wah, sama-sama bu… Kalau boleh tau barang-barang apa saja bu, yang harus Balqist bantu untuk membereskannya bu?”

“oh, barang-barangnya ada di kamar Zahroh nak, mari langsung saja masuk kamar Zahro nak.”

“Baik bu..”

Lalu Balqist dan Ibu Zahroh pun segera membereskan barang-barang yang ada di kamar Zahhroh. Tiba-tiba Balqist menemukan buku catatan harian Zahroh, Namun dia tak ingin membukanya secara sembarang. Buku itu Ia berikan kepada Ibu Zahroh. Namun, keytika ia berikan tiba-tiba ada kertas yang jatuh di pangkuan Balqist. Nampaknya itu adalah kertas yang berisikan, tulisan Zahroh ketika Ia sedang dirawat dirumah sakit. Tidak sengaja Balqistpun membacanya.

“ Selama ini aku selalu percaya bahwa Allah menciptak manusi berpasang-pasangan di bumi ini. Namun yang dimaksud pasanga dalam konteks ini adalah jodoh? Jika begitu jodoh itu adalah takdir Allah. Namun yang belum aku mengerti adalah takdir dalam konteks ini apakah termasuk takdir yang dapat dirubah ataukah tidak? Subhanallah, hanya Allah lah yang Maha kuasa dan Maha mengetahui…

Lalu aku pernah dengar bahwa  Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam untuk menemani Adam di syurga. Jika begitu Apakah benar setiap wanita di bumi ini memiliki bagian dari tulang rusuk  pasangannya yang telah di takdirkan oleh Allah? Jika benar,,, Apakah mungkin tulang rusukku ini bagian dari seseorang yang telah ditakdirkan untukku. Namun bagaimana jika aku telah meninggal sebelum menemukan pemilik tulang rusuk ini, apakah tulang rusuk ini akan hilang begitu saja?”

Subhanallah.. hanya Allah yang Mahakuasa dan Maha mengetahui yang tahu tentang semua rahasia ini , semoga kamu dapat mendapatkan jawabannya ya Zahroh.” ucap Balqist dalam hati.

Balqist terlihat terenyuh dan agak sedih setelah membaca tulisan sahabatnya itu. Namun Ia segera meletakkan kembali kertas itu kedalam buku harian Zahroh, dan melanjutkan kegiatannya.

Hanya Allah yang Maha Mengetahui segela sesuatu di muka bumi ini. Maka tak ada salahnya jika disuatu titik kita berserah diri kepada Allah, Namun tetap memiliki semangat untuk selalu mempelajari ilmu-ilmu Allah. _THE END_

2 responses to “Cerpen: Takdir yang Semu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s