Hanya Mimpi dan Sekedar Ilusi


“Tiba-tiba aku terbangun dari mimpi itu…. Aku ingin melanjutkan kisah mimpi itu, atau sekedar mengulangnya lagi disetiap tidurku.”

Mengharapkan sesuatu yang belum pernah dia gapai, ya itulah kebiasaan Rara. Sesuatu yang dapat digapai dengan usaha (kerja keras) mungkin mudah untuk rara lakukan. Tapi tidak dengan cinta, suatu hal yang tak dapat diukur dengan apapun. Selama ini Rara selalu membiarkan orang lain mencintainya, tapi tidak pernah membalasnya, membiarkan semua cinta yang singgah berlalu begitu saja. Saat itu dia merasa cinta memiliki ukuran yang tinggi, tidak sembarang orang dapat melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Rara selama ini hanya merasa cinta orang-orang yang pernah singgah dalam hidupnya hanyalah permainan.

“Apakah setiap orang memilki keseriusan dalam menyukai orang lain? ataukah mereka hanya bermain-main dengan perasaan?”

Itulah yang selalu ada dalam fikiran Rara. Tapi itulah yang terjadi, setiap laki-laki yang telah menyatakan cinta kepada Rara akan cepat hilag begitu saja, tanpa mempertahankannya lebih lama.

Waktupun mulai berlalu tahun demi tahun, Rara bukanlagi seorang remaja ingusan, yang hanya bermain dengan pikirannya sendiri. Dia mulai ingin membuka diri dengan cinta yang datang dalam hidupnya. Apa lagi seseorang hadir dalam hidupnya, seseorang yang sangat berarti dia bernama Dafa, seorang laki-laki yang banyak membantunya dalam menghadapi berbagai masalah, dan dapat membuat Rara seorang gadis pemikir menjadi seorang gadis yang lebih ceria dan ramah,

Seiring berjalannya waktu, rasa sayang persahabatan, mulai tumbuh menjadi cinta, Rara merasakan ketulusan persahabatan dari Dafa yang berbeda dari teman-temannya yang lain. Rara pun tau bahwa perasaannya tidak akan pernah terbalas. Dan itu memang yang terbaik, bagi Dafa, hubungannya dengan Rara lebih baik hanya sebatas persahabatan dan mernurutnya lebih indah dari pada hubungan yang lebih.

“Apakah aku terlalu meremehkan perasaan mereka? Sehingga beginalah rasanya ?” Ungkap Rara. “Aku mencintainya, tanpa menuntut apapun, kecuali kasih sayang dan pertahanan imannya. Tapi apa yang kudapat? Selalu kesalahan yang kubuat dihadapanmu, dan mungkin dengan semua yang kulakukan tidak ada hal yang membuatmu terkesan denganku”

“Orang-orang berkata kamu hanya laki-laki yang masih senang dengan duniamu sendiri, kamu memilki pribadi yang berbeda dengan orang seumuranmu. Apakah itu benar? karena selama ini aku percaya bahwa kau adalah orang yang berbeda bukan karena kekuranganmu tapi karna kelebihanmu.”

“Mungkin aku yang terlalu terburu-buru dan mengebu-gebu dengan perasaan ini. Aku tau aku tak pantas untukmu, tapi bukannya sebuah perasaan dapat diperjuangkan?”

“Atau memang kau bukan jodohku”

“dan aku terlalu bodoh”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s