Coretan dikala Malam berlalu.


Aku takut di Balik Pujian ada Cercaan dan begitupula di balik Cercaan ada Pujian.
Lantas siapakah yang layak aku percaya maupun ku benci? si pencercahkah atau si pemuji?
Sebaliknya banyak yang mengatakan lidahku setajam si pencerca, padahal aku merasa sudah menjaga lidah ini sebaik-baiknya.
Mungkin saja si pencerca tak pernah ada niatan untuk mencercaku, seperti apa yg telahkulakukan selama ini. Mungkin juga lidah ini kurang terdidik untuk menyikapi segala masalah, dan malah menimbulkan masalah lainnya.

Maka benar bahwasannya dunia hanyalah ladang kita beramal. Dunia bukanlah surga, dunia ini fana, banyak ranjau didalamnya. Fatamorgana dimana-mana. Manusia bahkan tak bisa hanya berbekal akal sehatnya, mereka membutuhkan penuntun dari hati nuraninya. Logika hanyalah permainan yang terbatas, kita hanya akan di tertawakan para malaikat jika terlalu mengandalkan logika, karena logika takkan mampu menjangkau kekuatan Maha dari segala Maha.

Sehingga sangatlah naif ketika manusia mengatakan kepada siapa seharusnya aku berlindung? kepada siapa seharusnya aku beriman? bagaimana seharusnya aku berlaku? dan bilamana aku tlah tiada?
Sedangkan pegangan hidup telah jelas di depan mata. Berseru, Mengoyak bahkan tlah menyentak, namun kita berlalu bak manusia yang tlah kehilangan pendengarannya.
Maka salah siapakah jika akhirnya hanya ada keraguan di hati kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s