“ Indonesia Terlena Kejayaan Kreativitas Masa Lalu, Hak Ciptapun Dilanggar”


Indonesia Negara yang diakui dunia kaya akan budaya dan kreativitas yang penuh keindahan. Unik, menarik, indah serta penuh dengan filosofi kehidupan, ya itulah cipta karya melegenda Indonesia. Maka cukup dimengerti memang ketika masyarakat Indonesia ramai-ramai menuntut Negara tetangga yang di duga mencuri atau mengakui kreativitas produk budaya Indonesia mulai dari angklung, batik, dan reog ponorogo.

Apapun masyarakat lakukan demi mendapatkan hak mereka kembali, mulai dari demo, membentuk suatu komunitas, penyelenggaraan kampanye, dan aksi buli membuli di media sosialpun marak terjadi.

Aksi ini nampaknya lama kelamaan menjadi sangat di sayangkan karena banyak hal yang sebagai masyarakat Indonesia mereka lupakan. Kreativitas yang mereka banggakan nampaknya hanyalah kreativitas yang hanya lampau saja. Mereka terlalu nyaman dengan kejayaan masalalu, sehingga lupa untuk mengejar kreativitas masa kini dan masa depan.

Hal ini terbukti dengan makin buruknya citra perfilman di Indonesia. Film yang seharusnya menjadi salah satu media masyarakat bukan hanya dalam hal hiburan saja namun juga mendidik, nampaknya tidak berjalan atau bisa di katakana, film Indonesia gagal menjalankan fungsinya. Ya, walaupun ada beberapa memang film Indonesia yang sudah berkualitas namun nyatanya tidak sedikit juga film Indonesia yang hanya mengandalkan cerita “esek-esek” daripada cerita yang penuh mengandung estetika, filosofi dan bahan ajar minimal “karakter” untuk masyarakat di Indonesia.

Nampaknya para remaja di Indonesia pun sadar akan hal ini, bosan dengan tingkat kualitas yang rendah dalam perfilman Indonesia, mereka mulai lari untuk mencari hiburan yang berkualitas dengan menonton film maupun drama buatan negeri lain. Apalagi perkembangan teknologi semakin canggih tidak sulit bagi mereka mencari film-film yang berkualiats dari Negara lain, selain dinilai lebih berkualitas dari segi seni dan sebagainya, mereka menggap dengan menonton film dari luar negeri mereka dapat menambah pengetahuan mereka dari segi budaya maupun minimal dari segi bahasa.

Hal ini terlihat dari maraknya terbentuk komunitas fans untuk artis-artis diluar negeri dan juga maraknya antusias masyarakat ketika ada artis luar negeri yang berkunjung ke Indonesia. Selain itu juga dapat kita lihat ketika beberapa stasiun televisi Indonesia menayangkan beberapa film buatuan Negara lain. Seperti dulu pernah marak adanya telenovela, Hollywood, bollywood, dan sekarang drama korea. Drama korea, yang buatan dari Negara korea selatan ini, selain memperlihatkan artis-artisnya yang ganteng-ganteng dan cantik-caktik ini. Mereka juga menyajikan kualitas pengambilan gambar yang tidak main-main dimana mereka selalu memperlihatkan pemandangan Negara mereka dengan Indahnya, terlihat mereka tau akan nilai-nilai estetika yang harus mereka angkat. Selain itu dalam film mereka selalu tidak tertinggal kritik sosial atau setidaknya pembelajaran, misalnya jika tokoh utama seorang dokter maka dalam film itu akan kita temukan sedikit ilmu tentang kedokteran, tentang kegiatannya sehari-hari maupun tingkat kesulitan apa yang mereka selalu rasakan. Begitu pula jika pemeran utama mereka sebagai koki. Wartawan, presiden dan sebagainya.

Kesuksessan film luar negeri di Indonesia nampaknya membuat para pemilik media, mulai melirik untuk meniru genre yang perfilman luar negeri itu sajikan. Sayangnya cara meniru mereka salah. Karena bukan genre saja yang mereka tiru namun jalan cerita dalam sebuah film yang mereka tiru. Dengan kualitas yang lebih buruk, dan beberapa tokoh yang mirip dengan film yang asli, memperlihatkan jelas bahwa beberapa perfilman Indonesia mulai menjiplak karya-karya perfilman dari bangsa lain.

Salah satunya adalah film “Kamu yang Berasal Dari Bintang” yang ternyata menjipalak film dari korea selatan yang berjudul “Man from the Stars“. Sayangnya hal ini telah diketahui oleh pihak SBS yaitu pihak yang bertanggung jawab dalam film tersebut. SBS pun mencap hal ini sebagai tindakan plagiatrisme. Tidak berlebihan memang jika SBS sempat menyatakan akan menindaklanjuti hal ini, karena parahnya RCTI sebagai penanggung jawab film “Kamu yang Berasal dari Bintang” belum mendapat izin resmi soal hak cipta dan hak tayang.Walupun akhirnya khasus ini terselesaikan secara damai, dan belum menyentuh ranah hukum, bagaimanapun juga citra perfilman Indonesia di mata dunia telah sedikitnya tercoreng dengan adanya khasus ini.

Maka sebaiknya sebagai mayarakat Indonesia, kita perlu waspada dengan apa yang telah kita perbuat, kita harus melek hukum. Contohnya dalam khasus ini, pihak RCTI telah melanggar ketentuan UU Hak Cipta no 19 tahun 2006. Dimana pada pasal Pasal 2 ayat 2 bahwa:“Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut unt uk kepentingan yang bersifat komersial.” Juga dalam pasal 49 yang berisi:“(1)Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya.”

Dalam UU Hak Cipta no 19 tahun 2006 pasal 12 ayat 1.“ Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup: k. Sinematografi”. Selain itu RCTI juga melanggar UU Hak Cipta no 19 tahun 2006 pasal 24, yang berbunyi:” (2) Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada pihaklain, kecuali dengan persetujuan Pencipta atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam hal Pencipta telah meninggal dunia.(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga terhadap perubahan judul dan anak judul Ciptaan, pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Pencipta. Dimana pihak RCTI telah merubah nama dan tidak menyebutkan nama pencipta asli atas naskah filmnya.

Solusi dalam menyelesaikan khasus ini dengan cara damai telah sesuai dengan UU Hak Cipta no 19 tahun 2006 pasal 24, (1)Pemegang Hak Cipta berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan surat perjanjian lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (4)Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi. Juga pasal Pasal 58 “Pencipta atau ahli waris suatu Ciptaan dapat mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24”. Dengan kesepakatan kedua belah pihak kasus ini telah diselesaikan secara damai, dan mungkin telah ada kesepakatan yang telah mereka buat, sehingga dimana tayangan “Kau yang Berasal dari Bintang” yg sebelumnya pada tanggal 28 April itu berhenti tayang setelah jalan tiga episode saja, dapat lanjut tayang di perfilman Indonesia.

Dari hal ini sebagai masyarakat Indonesia saya berharap kita dapat membangunkan kreatifitas kita kembali dari tidur yang lama. Karena sejatinya kita mampu, terlihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang telah menjadi tenaga professional di bidang perfilman, dan juga makin banyaknya pendidikan yang bermacam-macam khususnya di bidang entertain. Yang seharusnya dapat membangkitkan dunia entertain kita menjadi lebih berkualitas, dan tidak ceroboh dalam mengambil keputusan.

Sadar hukum, sadar akan kepentingan bangsa dan Negara, pendidikan dan memiliki inovasi, kreasi yang tidak melupakan nilai estetika yang dulu sempat jaya mengharumkan nama bangsa. (*/wfk)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s