Kebaikan Allah dan Kisahku


“ Jika bukan karena kebaikan Allah, langkah kecilnnya tak mungkin menapak kemana-mana” (halaman ke 5, Love sparks in Korea). 

Baru beberapa menit yang lalu baca novel bunda Asma Nadia yang, Love Spark In Korea edisi Jilbab Traveler. Sebenernya buku ini udah di beli sama ibuk bulan desember yang lalu, tapi karena ada komik bebek donal punya saudara yang saya pinjam dan tebel banget belum selesai saya baca akhirnya saya putusin buat ngabisin si donal bebek itu. Jadi akhirnya baru bisa baca novel bunda asma sekarang. Eh, baru aja baca sampai halaman ke 12 udah wafer, eh maksudnya baper … :v. Baper yang pertama, karena kalimat ini “ Jika bukan karena kebaikan Allah, langkah kecilnnya tak mungkin menapak kemana-mana” (halaman ke 5, Love sparks in Korea).

Ya, setelah berpulangnya saya dari liburan saya, yang kali ini memang buat saya adalah pengalaman yang sangat luar biasa, yang mungkin sebagaian kerabat saya merasakan hal yang sama. Membuat sebagian besar kerabat saya bertanya “ Dalam rangka apa kesana? Study? “ banyak yang berfikiran saya study atau hanya sekedar study banding kesana (Aamiin). Rasanya pertanyaan itu sangat sulit untuk saya jawab, karena saya bukan study maupun study banding disana atau bahkan mengantarkan atau menjenguk saudara saya yang belajar disana. Seandainya itu benar akan sangat luar biasa lagi untuk saya tapi nyatanya tidak, saya hanya berlibur kesana. Lalu apa susahnya untuk menjawab “dalam rangka liburan aja… :D”. Saya takut jawaban saya ini akan dianggap sinis oleh sebagian kerabat saya diluar sana yang membaca komen saya. Saya takut…. Ya saya takut… untuk meng—covernya maka saya menceritakan bahwa memang benar adanya kami mendapatkan tiket promo dan akhirnya kami bisa berangkat. Tapi akhirnya saya menemukan kalimat yang pas, yang memang seharusnya saya sudah menyadari ini sejak lahir. Ya, selain karena tiket promo saya juga bisa berangkat karena kebaikan Allah. Rezeki ini semua memang datangnya dari Allah, rezeki untuk  saudaraku yang gila traveling dan ibuku yang bekerja keras hingga secuil harapannya akhirnya bisa terwujud di umurnya yang menginjak setengah abad. Dengan kebaikan Allah pula kami bisa kembali dengan selamat, dan membagikan sedikit kesenangan kami kepada beberapa kerabat.

Kalau ngomongin tentang rezeki, kakak perempuan saya yang ke—dua jarang banget punya kesempatan untuk keluar (travelling) bersama kami, bahkan dari kecil dia yang mengalah untuk tidak ikut berpergian. Namun, dikesempatan yang lain malah dia sempat hidup lama di tempat-tempat yang kami singgahi sebentar untuk rekreasi dulu. Ya, di jogja dia tinggal selama 4 tahun lamanya, dan sekarang di bali dia sekarang menetap di bali karena rumah suaminya di bali. Ya, diumurnya yang ke 22 tahun dia memutuskan menikah, dan menetap di bali hingga sekarang. Maka sebenernya rezeki kakak ku yang tak terduga ini memang merupakan kebaikan Allah yang manusia biasa tak dapat menghitungnya dengan logika dan ilmu pasti lainnya.

Kembali ke novel bunda Asma Nadia ( dgn nada yg bergaya om Tukul Arwana :v ), saya dibuat wafer lagi ketika rania sang tokoh utama dalam novel tersebut menceritakan masa kecilnya. Salah satunya percakapannya dengan sang Ayah, yang menceritakan Abu Abdullah Muhammad Ibnu Battutah. Ibnu battutah adalah seoarang penjelajah yang kehebatannya melampaui sejumlah eksplorer Eropa seperti Christopher Columbus, Vasco da Gama dan Magellan yang bahkan baru mulai berlayar 125 tahun setelah Ibnu Battuah. Nama-nama yang kemudian menjadi familier seiring Rania beranjak Remaja. Ternya, Ibnu Batuttah ini memulai perjalanannya mengelilingi dunia sekitar umur 21 tahun. (Pada halaman ke 11 dalam buku love spark in korea.)

Sebelumnya saya sempat iri dengan kakak perempuan saya, dia bisa melalui fase remajanya secara berkualitas. Pernah mengukir prestasi yang untuk saya  susah untuk saya gapai, dia lulus tepat waktu dengan cumload, sebelum di wisuda dia menikah dengan orang yang dia cintai, yang selama 4 tahun lebih (mungkin), telah setia menemaninya. Well saya yang diumur saya sekarang dan insyaAllah hampir lulus, belum mengukir prestasi apapun, dan mungkin satu-satunya yang dapat saya andalkan adalah nilai ipk saya yg lumayan. Untuk seseorang yang mendampingi saya….? Sejak lahir hanya orang tua dan saudara kandung saya yang mendamping kehidupan saya ini hehehe. Itu sempat terlitas dalam benak saya. Saya iri. Tapi satu hal yang saya tahu, kakak saya itu belum  merasakan indahnya negeri lain selain Indonesia di usianya yang ke—21 tahun itu. Dan pada umur 21 tahun pula Ibnu Battutah memulai perjalanan megahnya ya, sebagai eksplorer dunia. Lalu pada umur saya yang ke 21 tahun, walupun bukan sebagai eksplorer sejati, karena masih di biayai orang tua dan didampingi kakak serta ibu untuk jalan-jalan. Yang saya tahu, seharusnya ini adalah awal pemacu semangat saya untuk mencari cara agar bisa mengelilingi dunia dengan my own capability, yah, mungkin  langkah awal saya dengan cara di manjakan, tapi langkah setelahnya adalah dengan memanjakan. Memanjakan keluarg dengan kemampuan saya, mengajak mereka merasakan belahan dunia yang lain. Dengan do’a ibu saya yang mencita-citakan anaknya menjadi reporter treveler keliling dunia. Walau pada akhirnya mungkin saya bukan sebagai reporter, tapi saya punya keyakinan saya pasti kembali ke negeri itu atau saya akan bernafas di belahan dunia yang lain. Saya bisa dan Allah adalah seperti apa yang hambanya prasangkakan kepadaNya. Saya menganggap Allah adalah Maha dari segala Maha, yang tak akan mengabaikan prosess dari perjuangan hamba-hambanya. Lalu nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? ( AR-Rahman)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s